As we enter Wot Batu, we are not going to see works of art, we are entering them….There we meet not only stones, wind, and water, but the gentle presence of Sunaryo himself and, if we can completely slow down, our own inner self."

Tony Godfrey / (Kurator & Penulis Seni)

The whole Wot Batu raises the immense question of the role of spirit in the unending flow of matter. Sunaryo calls it a bridge. Let humans find a bridge between the two.

The Jakarta Post

The whole Wot Batu raises the immense question of the role of spirit in the unending flow of matter. Sunaryo calls it a bridge. Let humans find a bridge between the two.

The Jakarta Post

Saat kita memasuki Wot Batu, kita tidak akan melihat karya-karya seni, kita memasukinya…Di sana kita tidak hanya menemukan bebatuan, angin, dan air, tetapi juga keberadaan Sunaryo sendiri yang samar-samar dan, jika kita bisa benar-benar melambat, diri kita yang paling dalam

Tony Godfrey / (Kurator & Penulis Seni)

Tentang Wot Batu

Wot Batu adalah sebuah karya seni instalasi berskala ruang yang dibuat oleh Sunaryo, seorang seniman asal Bandung. Pada ruang terbuka seluas 2.000 meter persegi, lebih dari 135 batu ditanam dan ditata secara konseptual dalam harmoni. Sunaryo menarik garis dari gunung- gunung di Jawa dan lewat garis itu dibawanya bebatuan vulkanik sebagai medium mahakarya yang tak lekang oleh waktu: Wot Batu. Setiap pahatan, tatahan, dan pecahan menjadi torehan catatan tentang suatu peradaban—warisan dari abad ke-21 untuk generasi masa datang.

Dalam Bahasa Jawa kuno, ‘wot’ adalah jembatan. Sunaryo menciptakan Wot Batu sebagai “jembatan spiritual”— penyeimbang antara jiwa manusia dengan wujud ragawi kehidupan; penghubung antara empat elemen alam. Wot Batu adalah suatu konfigurasi energi—hadir dari perjalanan spiritual dan transendental Sunaryo, mewujud suatu penyadaran tentang eksistensi manusia dalam dimensi alam yang tak berbatas.

Ketentuan Kunjungan

Ketentuan Kunjungan

Lahir di Banyumas, 1943.
Aktif 1962 — sekarang.

Sunaryo menerima pendidikan seni patung pertamanya di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ia lulus pada tahun 1969. Pada tahun 1975, ia pergi ke Carrara, Italia untuk belajar seni pahat marmer. Seniman ulung, Sunaryo dikenal dengan patung monumentalnya seperti Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MONPERA), Bandung dan Patung Jenderal Sudirman, Jakarta, dan yang terbaru adalah “Bilah Nusantara”, kuali Asian Games 2018 yang bertempat di depan stadion utama Gelora Bung Karno. Selain lukisan, ia juga dikenal dengan lukisan, instalasi, dan cetakannya. Lima dari karya cetaknya dimasukkan dalam The Contemporary Prints of the World (1989) bersama seniman terkenal internasional seperti Joan Miro dan Paul Klee.

Tentang Wot Batu